Pelatihan Psychological First Aid Digelar di Tambora, Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran
TAMBORA – CELOTEH.ONLINE – Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “We’re Ready! Optimalisasi Mitigasi Bencana melalui Implementasi Tim Psychological First Aid pada Bencana Kebakaran di Wilayah Rawan Kebakaran Tambora” di Kelurahan Tambora pada 12–13 Mei 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi dampak psikologis akibat bencana kebakaran.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Kantor Lurah Kelurahan Tambora tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat dan lintas sektor, mulai dari kader kesehatan, kader dasawisma, PKK, tenaga kesehatan dari Puskesmas Tambora, hingga perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pelatihan mengenai manajemen stres, pengenalan Psychological First Aid (PFA), serta petunjuk pengisian format kunjungan rumah.
Materi tersebut diberikan sebagai upaya membekali peserta dalam memberikan dukungan psikososial awal kepada masyarakat ketika terjadi bencana kebakaran.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Mustikasari, menyampaikan bahwa dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam penanganan bencana, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi seperti Tambora.
“Penanganan bencana tidak hanya berfokus pada keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis masyarakat terdampak. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat memiliki kemampuan dasar untuk memberikan dukungan emosional dan psikososial secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Lurah Tambora, Dessy Pramudhita Hasry, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah preventif dalam menjaga kesehatan mental dan kesiapsiagaan masyarakat saat menghadapi bencana kebakaran.
Pada hari kedua, peserta melakukan praktik lapangan melalui kunjungan ke rumah warga di wilayah rawan kebakaran.
Dalam praktik tersebut, peserta menerapkan materi yang telah dipelajari, mulai dari komunikasi suportif, identifikasi stres psikologis, hingga edukasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesiapsiagaan masyarakat dan lintas sektor dalam menghadapi dampak psikologis bencana kebakaran semakin meningkat.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah setempat dalam membangun ketangguhan wilayah terhadap risiko bencana. (*)
















Komentar