Hadirkan Praktisi Ekspor, Talk Show Wajo Ramadhan Expo Hubungkan Pelaku Lokal dengan Buyer Dunia
WAJO – CELOTEH.ONLINE – Lapangan Merdeka Sengkang, Kabupaten Wajo, menjadi saksi bisu lahirnya optimisme baru bagi pelaku usaha lokal.
Sebuah Talk Show bertajuk “Potensi Kabupaten Wajo Menuju Pasar Internasional” digelar pada Jumat sore (27/2/2026), mempertemukan agregator, buyer, dan kalangan akademisi.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama: Meisya (Owner PT Wastra Indonesia), Lia (Naralia Group Indonesia), dan Elos (PT House Indo Group).
Diskusi strategis ini turut melibatkan Kadin Wajo, HIPMI, serta mahasiswa Fakultas Pertanian untuk menyelaraskan teori akademis dengan praktik eksekusi di lapangan.
Meisya, pengusaha Indonesia yang berbasis di Korea Selatan sekaligus pendiri Galeri Seni Wastra Indonesia di Seoul, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas sutra Wajo.
Menurutnya, sutra Wajo adalah warisan budaya luar biasa yang siap bersaing di kancah global.
“Sutra dari Kabupaten Wajo ini adalah warisan budaya yang luar biasa serta perlu dilestarikan dan dipromosikan lebih luas,” ujar Meisya.
Senada dengan hal tersebut, Ibu Lia, salah satu dari 12 agregator yang dipilih oleh Kementerian Perdagangan RI, menegaskan kehadirannya untuk menjembatani pelaku usaha lokal dengan buyer internasional.
Rencananya, produk potensial Wajo akan dibawa ke pameran internasional di Hong Kong, Vietnam, Thailand, hingga Jepang.
Suasana diskusi panel di Lapangan Merdeka Sengkang menjadi lebih dinamis saat memasuki sesi tanya jawab.
Niswatuz Zakirah, mahasiswi Agribisnis Universitas Puangrimagalatung, melontarkan pertanyaan kritis mengenai hambatan utama dan persiapan bagi pemula di dunia ekspor-impor.
Menanggapi hal itu, Pak Elos dari PT House Indo Group menekankan bahwa hambatan terbesar bukanlah modal uang, melainkan mentalitas dan kapasitas produksi.
“Hal pertama yang harus disiapkan adalah mentalitasnya dulu. Ekspor itu tidak mudah, ekspor itu berat, jadi mentalnya harus siap dulu,” tegas Elos di hadapan peserta.
Ia membeberkan fakta di lapangan bahwa industri rumah tangga di Wajo umumnya baru mampu melayani order skala kecil (50–100 kg), sementara permintaan internasional seringkali mencapai 5 hingga 10 ton.
“Wajo ini berpotensi besar sekali, namun harus disiapkan bahan bakunya. Tugas adik-adik (mahasiswa) adalah bagaimana caranya bahan baku di sini siap dan jumlahnya banyak,” tambahnya.
Dorongan Inovasi untuk Mahasiswa
Diskusi ini juga menekankan peran vital mahasiswa Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan untuk tidak sekadar belajar teori dasar.
Mahasiswa didorong fokus pada Research and Development (R&D) serta teknologi pengolahan hasil produksi.
“Tuhan sudah berikan Kabupaten Wajo begitu berlimpah hasilnya. Kalian harus memikirkan teknologi yang harus dikembangkan, riset yang harus dikembangkan,” kata narasumber.
Para pakar menyarankan agar mahasiswa terlebih dahulu fokus meningkatkan mutu dan nilai tambah produk lokal sebelum melangkah ke tahap ekspor.
Khusus untuk sektor pangan seperti beras, fokus utama disarankan pada swasembada dan suplai lokal/nasional.
“Fokusnya bukan soal ekspor atau impor dulu, itu masih jauh. Tapi bagaimana cara meningkatkan mutu hasil dari Kabupaten Wajo ini saja dulu,” pungkasnya.
Pertemuan ini ditegaskan bukan sekadar seremonial, melainkan awal dari pendampingan teknis agar pelaku usaha di Kabupaten Wajo benar-benar siap melakukan pengiriman perdana (first shipment) ke pasar internasional. (*)

















Komentar