
Makassar — Celoteh.online — Sulawesi Selatan (Sulsel) menempati peringkat kelima sebagai wilayah dengan tingkat peredaran narkotika tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terbukanya akses jalur laut, banyaknya pelabuhan, serta keberadaan dermaga tradisional yang dinilai rawan dimanfaatkan jaringan narkotika.
Fakta itu disampaikan Kepala Bidang Penindakan dan Intelijen Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, Kombes Pol. Ardiansyah, dalam rilis akhir tahun di Kantor BNNP Sulsel, Selasa (30/12/2025).
Menurut Ardiansyah, jalur laut menjadi celah utama masuknya narkotika ke wilayah Sulsel. Jaringan narkoba kerap memanfaatkan jalur nonresmi atau yang dikenal sebagai “jalur tikus” untuk menghindari pengawasan aparat.
Baca juga: 94 Pos Pengamanan Disiapkan, Polda Sulsel Fokus Amankan Nataru
“Sulsel memiliki banyak akses laut, terutama dermaga tradisional nelayan. Ini dimanfaatkan jaringan narkotika karena pengawasannya tidak seketat jalur resmi,” ujar Ardiansyah.
Ia menjelaskan, narkotika umumnya masuk melalui jalur laut menggunakan perahu kayu yang berlayar di lintasan tidak resmi. Setelah mencapai wilayah tertentu, barang haram tersebut kemudian didistribusikan kembali menggunakan moda transportasi lain.
“Biasanya masuk lewat jalur nonresmi menggunakan perahu kayu. Setelah itu, barang dibawa melalui Nunukan dan dilanjutkan menggunakan kapal Pelni, baik lewat kurir maupun paket, menuju Sulsel, salah satunya ke Parepare,” jelasnya.
Ardiansyah menyebut Kota Parepare menjadi salah satu titik rawan peredaran narkotika karena berfungsi sebagai pelabuhan transit jalur laut. Posisi strategis tersebut menjadikan wilayah ini rentan dimanfaatkan jaringan narkoba lintas daerah.
Untuk menekan peredaran narkotika, BNNP Sulsel telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota Parepare terkait rencana pembentukan Badan Narkotika Nasional (BNN) di wilayah tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Wakil Wali Kota Parepare. Pembentukan BNN di sana penting karena sebagian besar narkotika masuk melalui jalur laut dan pelabuhan Parepare,” katanya.
Menurut Ardiansyah, jalur laut dipilih jaringan narkotika karena dinilai lebih longgar dalam pengawasan dibandingkan jalur udara. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi aparat penegak hukum dalam memutus mata rantai peredaran narkoba di Sulsel.
Dalam aspek penindakan, BNNP Sulsel mencatat sejumlah pengungkapan kasus besar sepanjang 2025. Pengungkapan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Polda Sulsel dan jajaran polres, khususnya Polres Parepare.
“Beberapa kasus besar berhasil diungkap, dengan barang bukti mencapai 80 kilogram, ada juga sekitar 40 kilogram. Ini menunjukkan narkotika yang masuk ke Sulsel jumlahnya sangat besar,” ungkap Ardiansyah.
Selain pengungkapan barang bukti dalam jumlah signifikan, BNNP Sulsel juga mencatat penangkapan lebih dari 10 bandar narkoba sepanjang tahun 2025. Para bandar tersebut berasal dari jaringan berbeda dan beroperasi lintas wilayah.
“Tahun ini sudah lebih dari 10 bandar narkoba yang berhasil kami tangkap,” ujarnya.
Ardiansyah menegaskan, upaya pemberantasan narkotika tidak hanya berhenti pada penangkapan pelaku. BNNP Sulsel juga telah berkoordinasi dengan BNN pusat untuk menelusuri serta menyita aset milik para bandar sebagai bagian dari strategi pemiskinan jaringan.
Baca juga: Petani Polongbangkeng Laporkan Polisi ke Propam Polda Sulsel
“Kami sudah berkoordinasi dengan BNN pusat untuk penyitaan aset. Harapannya, setelah aset disita, jaringan ini tidak lagi memiliki kemampuan menjalankan bisnis narkotika,” tegasnya.
BNNP Sulsel menilai pemutusan jalur distribusi melalui laut menjadi kunci utama dalam menekan peredaran narkoba di wilayah Sulawesi Selatan. Selain penindakan, penguatan pengawasan di pelabuhan, dermaga tradisional, serta sinergi lintas instansi dinilai mutlak diperlukan.
Ardiansyah juga mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir dan sekitar pelabuhan, untuk berperan aktif melaporkan aktivitas mencurigakan.
“Peran masyarakat sangat penting. Tanpa dukungan warga, pengawasan jalur laut yang sangat luas ini sulit dilakukan secara maksimal,” pungkasnya.