ALARM SUNYI,MENCAMPAKKAN IMUNISASI BERUJUNG CAMPAK
Naprilyah Adha Wisna
promkes puskesmas, mahasiswi pasca kesmas
Bulan Februari tahun 2026, Indonesia berada di posisi ke 2 dunia dengan kasus campak tertingi.
Sebuah pepatah lama sering kali menjadi kenyataan pahit dalam dunia kesehatan: sesuatu baru terasa berharga ketika ia telah hilang. Di Kelurahan Wiringpalennae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, pepatah ini mewujud dalam bentuk yang mengkhawatirkan—kembalinya penyakit campak.
Campak karena Mencampakkan Imunisasi: Ketika Satu Keluarga Menjadi Alarm Kesadaran di Wiringpalennae
Pengalaman adalah guru yang paling kejam, karena ia memberikan ujian terlebih dahulu baru kemudian pelajarannya. Hal pahit inilah yang baru saja dialami. Sebuah kelalaian kecil dalam memahami pentingnya kesehatan, berujung pada status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang sempat mengguncang wilayah tersebut.
Ketika “Mencampakkan” Berujung Petaka

Campak, yang sejatinya bisa dicegah dengan mudah, kini mengintai anak-anak kita. Ironisnya, ledakan kasus atau potensi wabah ini bukan terjadi karena ketiadaan obat, melainkan karena sebuah keputusan yang disengaja maupun tidak: mencampakkan imunisasi.
Kata “mencampakkan” biasanya akrab dengan urusan perasaan. Namun dalam konteks kesehatan masyarakat di Wiringpalennae, mencampakkan imunisasi dasar lengkap—terutama vaksin Measles-Rubella (MR)—adalah bentuk kelalaian nyata yang mengorbankan masa depan buah hati.
Banyak orang tua yang terbuai oleh rasa aman palsu. Karena mengira campak hanyalah sekadar “demam dan bercak merah biasa”, atau karena termakan hoaks tentang efek samping vaksin, posyandu dan puskesmas pun mulai sepi. Imunisasi dianggap sebagai opsi, bukan lagi proteksi wajib.
Efek Domino di Dalam Satu keluarga: 9 Orang Terjangkit

Tragedi ini berakar dari tidak lengkapnya imunisasi dasar yang diberikan kepada anak di salah satu keluarga. Menganggap remeh tetesan dan suntikan vaksin di posyandu, atau mungkin terbuai mitos keliru, membuat sang anak tumbuh tanpa benteng pertahanan medis yang kokoh.
Campak bukanlah musuh sepele. Ia adalah salah satu virus paling menular di dunia. Begitu virus itu berhasil menjebol pertahanan tubuh sang anak yang tidak diimunisasi, efek domino yang mengerikan langsung terjadi. Dalam waktu singkat, suasana rumah berubah mencekam. Virus campak menyebar cepat dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya yang juga belum memiliki kekebalan.
Tidak tanggung-tanggung, 9 orang dalam satu keluarga terjangkit campak sekaligus. Rumah yang harusnya menjadi tempat bernaung yang aman, berubah menjadi episentrum penularan. Tubuh-tubuh yang menggigil, demam tinggi, mata memerah, dan ruam yang memenuhi kulit menjadi pemandangan memilukan sekaligus bukti nyata betapa berbahayanya jika imunisasi dicampakkan.
Dalam dunia medis, dikenal istilah Herd Immunity atau kekebalan kelompok. Bayangkan imunisasi sebagai pagar betis yang melindungi seluruh warga. Jika 95% anak di Wiringpalennae imunisasi, virus campak tidak akan punya ruang untuk bergerak. Anak-anak yang belum cukup umur atau yang tidak bisa divaksin karena kondisi medis tertentu akan ikut terlindungi.
Namun, ketika satu per satu orang tua memilih untuk “mencampakkan” imunisasi, pagar betis itu runtuh. Lubang-lubang kerentanan terbuka lebar. Akibatnya, virus campak masuk dan menyebar dengan cepat dari satu rumah ke rumah lain di sepanjang pemukiman warga.
Mengubah Sikap, Menjemput Sehat. Berbondong-bondong, Menjemput Sehat.
Badai pasti berlalu, begitu pula dengan masa-masa kritis yang dialami keluarga tersebut. Setelah melalui perawatan medis dan dinyatakan sembuh, sebuah pemandangan mengharukan sekaligus luar biasa terjadi di Kelurahan Wiringpalennae.
Masyarakat Wajo dikenal dengan filosofi hidupnya yang luhur, termasuk prinsip gotong royong dan saling menjaga (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge). Mengabaikan imunisasi jelas menjadi pembelajaran sehingga membentuk semangat saling melindungi.
Menanggapi situasi ini, tidak ada kata terlambat untuk berbenah. Pihak kelurahan, kader posyandu, tokoh agama, dan petugas kesehatan dari Puskesmas setempat harus kembali bersinergi mengetuk pintu-pintu rumah warga. Edukasi harus digencarkan untuk mengikis mitos keliru tentang vaksin.
Keluarga yang sempat menjadi korban keganasan campak ini tidak mau membiarkan tetangga mereka mengalami nasib serupa. Dipimpin oleh rasa syukur dan penyesalan yang mendalam, mereka melangkah keluar rumah. Bukan untuk bersembunyi, melainkan berbondong-bondong mendatangi Posyandu terdekat untuk memastikan seluruh anggota keluarga mendapatkan hak kesehatan yang sempat tertunda.
Langkah kaki keluarga ini ke Posyandu terdengar nyaring di telinga masyarakat sekitar. Ini adalah sebuah kesaksian hidup tanpa kata-kata.
Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana satu keluarga ringkih dihantam campak hingga 9 orang, menyebarkan efek kejut bagi warga Kelurahan Wiringpalennae lainnya. Teori dan penyuluhan dari petugas kesehatan yang selama ini mungkin hanya dianggap angin lalu, tiba-tiba menjelma menjadi kenyataan yang menakutkan di depan mata mereka.
Bagi para orang tua lainnya, mari kita renungkan kembali:
“Jangan sampai penyesalan datang saat tubuh mungil sang anak sudah menggigil dan dipenuhi ruam merah, hanya karena kita pernah mencampakkan hak mereka untuk sehat melalui imunisasi.”
Masyarakat tersadar dari “tidur panjangnya”. Mereka melihat langsung akibat nyata dari mencampakkan imunisasi. Kesadaran baru pun lahir di Bumi Lamaddukelleng ini:
• Posyandu Kini Dipadati Warga: Ibu-ibu kembali menggendong bayinya dengan antusias ke Posyandu, memastikan tidak ada lagi jadwal imunisasi yang terlewat.
• Kesadaran Berkelanjutan: Dampaknya tidak berhenti pada imunisasi anak saja. Trauma KLB ini mengubah pola pikir warga secara total. Kini, masyarakat Wiringpalennae mulai rajin memeriksakan kesehatan seluruh anggota keluarga secara berkala ke fasilitas kesehatan.
Kelurahan Wiringpalennae kini sedang menulis babak baru dalam sejarah kesehatannya. Status KLB campak yang sempat mampir kini digantikan oleh gelombang kesadaran masyarakat yang luar biasa.
Kisah 9 orang dalam satu keluarga yang terjangkit campak ini menjadi prasasti pengingat bagi kita semua: jangan pernah mencampakkan imunisasi jika tidak ingin dicampakkan oleh kesehatan. Melindungi anak dengan imunisasi dasar lengkap bukan sekadar kewajiban medis, melainkan wujud cinta paling nyata untuk menjaga keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar.
Obat dari kelalaian ini adalah kesadaran. Campak hanya bisa diusir dari kehidupan jika seluruh elemen masyarakat sepakat untuk berhenti mencampakkan imunisasi. Mari bawa kembali anak-anak kita ke posyandu. Jadikan imunisasi sebagai bukti cinta paling nyata untuk generasi penerus Bumi Lamaddukelleng. Karena mencegah hari ini, adalah cara terbaik menyelamatkan hari esok.
Naprilyah Adha Wisna
promkes puskesmas, mahasiswi pasca kesmas


















Komentar