Banner Iklan

REDEFINISI SUMPAH PEMUDA SETELAH 28 OKTOBER 1928 !

1 November 2026 05:00 WIB
Penulis : Salman Alfarisi
Editor : Redaksi
REDEFINISI SUMPAH PEMUDA SETELAH 28 OKTOBER 1928 ! i

Oleh : Muhammad Arya Dwi Madaprama

CELOTEH.ONLINE
(Pra-Kemerdekaan)
28 Oktober 1928 bukan sedekar tanggal, bulan, dan tahun belaka bagi bangsa indonesia, tetapi turut melibatkan ingatan terhadap suatu momentun bersejarah yang mengorbankan doa, tekad, usaha, tangis, amarah dan darah para pemuda dalam melahirkan suatu konsensus atau komitmen nasional dalam menyikapi kondisi negara dan bangsa indonesia.

Menariknya, di bawah tekanan dan Intimidasi para Imprealis, Kolonial maupun Kapitalis (Belanda) bukannya menyurutkan semangat serta menciptakan ketakukan bagi para pemuda dari berbagai kalangan dan daerah. Akan tetapi sebaliknya, kemauan untuk menjemput kemerdekaan indonesia semakin menguat dalam sanubari mereka dengan menjadikan belanda sebagai musuh bersama.

Melalui perumusan teks seorang pemuda berdarah minangkau (Mohammad Yamin), dan Lafadz Ikrar yang dikumandang oleh Ketua Kongres II Pemuda 1928 (Soegondo Djojopoespito) serta Delegasi Pemudi (Johanna Tumbuan Masdani) mendorong pemuda dan pemudi memiliki satu tujuan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yaitu :

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa indonesia.
Kami putra dan putri indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia.

(Pasca Kemerderkaan & Orde Baru)
Setelah kemerdekaan bangsa indonesia, polemik yang melibatkan pemuda dalam garis perjuangan kembali terjadi. Dalam nuansa kelam dan otoriter di bawah kendali Orde baru mengakibatkan Pemuda(i) terkhusus Mahasiswa(i) kembali memiliki suatu tujuan yang sama dalam menciptakan iklim demokrasi yang lebih sehat.

Dengan menjadikan Soeharto sebagai titik tujuan yang sama dalam melampiaskan berbagai keresahan dan amarah terhadap kebijakan yang merugikan masyarakat Indonesia, maka aneka ragam elemen mahasiswa kembali melantunkan Sumpah Pemuda sebagai komitmen untuk berada dalam satu garis perjuangan yang tidak terpisahkan.

Sehingga pada 28 Oktober 1988 Seorang Mahasiswa dari Yogyakarta (Afnan Malay) dalam Momentum Demontrasi Peringatan Sumpah Pemuda yang ke 60 tahun merumuskan suatu pembaharuan sebagai responitas atas Basic Demands Indonesia sebagai pusat dan arah baru perjuangan Mahasiswa yang berangkat dari Sumpah Pemuda dan dikenal sebagai Sumpah Mahasiswa yaitu :

Kami Mahasiswa Indonesia(i) Bersumpah, bertanah air satu, tanah air tanpa Penindasan
Kami Mahasiswa Indonesia(i) Bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan Keadilan
Kami Mahasiswa Indonesia(i) Bersumpah, berbahasa Satu,bahasa tanpa Kebohongan.

(Pasca Reformasi-Hari Ini)
Jika Pemuda(i) sebelum kemerdekaan memiliki suatu tujuan kolektif yaitu memperjuangkan satu tanah air yang sama dibalik kondisi invasi belanda, mendeklarasikan satu bangsa yang sama di antara banyak jenis dan etnis yang berkepentingan, serta berkomitmen menggunakan dan menjunjung tinggi bahasa yang sama (Indonesia) di tengah pengaruh bahasa Asing. maka 3 hal tersebut menjadi latar belakang sekaligus muatan utama sebagai arah perjuangan atau tujuan Pemuda secara Nasional sebagaimana yang tercantum dalam Sumpah Pemuda.

Jika Pemuda(i) yang duduk pada perguruan tinggi setelah kemerdekaan mengalami polusi terhadap iklim demokrasi akibat tindakan Soeharto, maka mereka bersepakat untuk memiliki satu arah perjuangan yang baru yaitu berikrar untuk menjadikan indonesia sebagai tanah air tanpa penindasan, bangsa yang tertuju pada keadilan serta menggunakan bahasa yang jujur tanpa kedzaliman.

Berbeda dengan kondisi pemuda pra kemerdekaan & orde baru, pemuda hari mengalami suatu tantangan yang baru juga, di mana  kehilangan tujuan bersama adalah keniscayaan yang mutlak akibat dari tertunaikannya demokrasi setelah orde baru, sehingga setiap orang maupun kelompok hanya mengejar masing-masing kebutuhan maupun kepentingan diri sendiri, adapun ikrar yang ditunaikan dalam beberapa rangkaian kegiatan untuk memperingati sumpah pemuda hanya sebatas kegiatan reaksioner dan seremonial belaka.

Bahkan hal yang lebih memalukan juga dapat dilihat dari beberapa orang yang notabene bertatus sebagai pemuda mengait keuntungan dalam momentum tersebut dengan memanfaatkan Sumpah pemuda menjadi lahan transaksional dengan cara yang cukup bervariasi, ada yang mengamankan unjuk rasa, membubarkan demonstrasi, mengalihkan kegiatan bahkan ada pula yang turut serta melakukan demonstrasi dengan gagah dan lantang bersumpah atas nama pemuda & mahasiswa namun di selimuti dengan kepentingan pribadi

Alih-alih hidup semakin berkembangan dan menciptakan hal yang baru pasca Reformasi untuk kemajuan bangsa dan negara, pemuda hari ini telah kehilangan tujuan secara nasional. Bukan tidak ada masalah, tetapi sudah buta atau terbutakan oleh sesuatu yang lain, bukan juga tidak ada solusi tetapi kita terlalu sering mengabaikan masalah, menormalisasi hal yang trend  lalu menerapkan standar yang baru tanpa subtansi seperti melantukan sumpah pemuda sebagai cara untuk menggugurkan tanggung jawab historis sehingga hanya bersifat Apologetis.

Yang berubah dari Peringatan Sumpah Pemuda hanyalah waktu belaka. Tanggal dan bulan menetap, namun hanya tahun peringatan yang silih berganti tetapi subtansinya hilang entah kemana arahnya.  Maka tidak berlebihan rasanya jika saya melihat Sumpah Pemuda Hanya Hidup Di Tahun 1928 dan berkembang pesat di Tahun 1988 sebelum mencapai Kematiannya di tahun 1998.  sebab sumpah hanya dikatakan hidup ketika berlaku pada tindakan yang konsisten dan berkelanjutan serta tidak berhenti pada kegiatan momentuman belaka.

Masih adakah satu titik yang dapat menjadi tumpuan kita sebagai pemuda untuk melahirkan garis perjuangan yang sama di tengah konflik yang tidak berkesudahan ini? Seperti yang dilakukan Pemuda Di Nepal tahun lalu (2025) dan Serbia Tahun ini ! Saya melihat tugas terbesar bagi kita sebagai pemuda hari ini bukan sekedar mendefinisikan masalah secara personal maupun sektoral dan bertindak secara temporal, tetapi kita memiliki kebutuhan akan satu defenisi yang dipegang secara universal untuk menjadi pijakan bertindak secara kolektif dan berkepanjangan.

Melihat kejadian peringatan sumpah pemuda pada tahun ini yang diwarnai dengan beberapa jumlah pemuda bahkan lansia yang tergabung didalamnya melakukan protes keras kepada pemerintah terhadap kondisi hari ini, saya masih percaya akan ada saat kita semua akan bertemu atau dipertemukan kembali dimedan juang dengan semangat yang sama atau lebih dari pada hari ini. Dengan cita-cita dan gerakan yang sama sehingga mencapai tujuan bersama. Salam dan hormat yang sebesar-besarnya terhadap mereka yang masih konsisten untuk merelakan kebahagiaan diri sendiri demi menciptakan surga yang dapat dirasakan oleh seluruh mahluk hidup.

Tags:

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Terkait

Rekomendasi Lain

Infografik

Infografik 1
Infografik 2

Baca Juga