Sebelum Kartini, Ada Colliq Pujié
Perempuan Berdaya yang Berakar untuk Indonesia Emas 2045
Oleh : Irwan Zakaria
Setiap 21 April, bangsa ini kembali menoleh pada satu nama yang telah menjadi simbol emansipasi perempuan: Raden Ajeng Kartini. Dari ruang-ruang kelas hingga mimbar pidato, Kartini hadir sebagai representasi perempuan yang berani berpikir melampaui batas zamannya—memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan martabat.
Gagasan-gagasannya tidak hanya mengubah cara pandang terhadap perempuan, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya kesadaran baru bahwa perempuan adalah subjek yang memiliki hak penuh atas masa depannya. Dalam konteks Indonesia modern, Kartini menjadi titik terang yang menandai pergeseran penting dari keterbatasan menuju kemungkinan.
Namun, sejarah Indonesia tidak pernah berdiri di atas satu nama. Ia adalah mozaik panjang yang tersusun dari banyak jejak, dari berbagai penjuru Nusantara, yang masing-masing menyimpan kontribusi unik terhadap pembentukan peradaban.
Di antara jejak-jejak itu, ada sosok yang jarang disebut dalam narasi nasional, tetapi memiliki peran mendalam dalam menjaga dan merawat fondasi pengetahuan : Colliq Pujié. Ia hidup jauh sebelum Kartini dikenal luas, bergerak dalam ruang budaya Bugis dengan cara yang berbeda—tidak melalui pidato atau surat yang menggugah, tetapi melalui kerja sunyi menjaga warisan literasi.
Maka, mengingat Colliq Pujié hari ini bukanlah upaya membandingkan, apalagi menggantikan Kartini. Sebaliknya, ini adalah cara untuk memperluas cara kita membaca sejarah—bahwa perempuan Nusantara telah lama berdaya, dengan jalan dan bahasanya sendiri.
Jika Kartini berbicara melalui gagasan modern tentang pendidikan dan kebebasan, maka Colliq Pujié berbicara melalui tindakan konkret dalam merawat pengetahuan dan memastikan bahwa nilai-nilai tidak hilang ditelan zaman. Keduanya hadir dalam ruang yang berbeda, tetapi mengarah pada tujuan yang sama: memuliakan manusia melalui ilmu.
Dalam perjalanan intelektualnya, Colliq Pujié memainkan peran penting dalam pelestarian naskah-naskah Lontaraq, termasuk keterlibatannya dalam penyusunan epos besar La Galigo.
Karya ini bukan sekadar teks sastra, melainkan himpunan pengetahuan yang memuat kosmologi, etika, dan pandangan hidup masyarakat Bugis.
Dengan menyalin, menyusun, dan menjaga naskah tersebut, ia tidak hanya menyelamatkan teks, tetapi juga menjaga arah berpikir generasi.
Di titik ini, kita melihat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kekuatan untuk menentukan apa yang layak diingat dan diwariskan.
Jika dibaca dalam kerangka yang lebih luas, peran Colliq Pujié menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk sekolah formal.
Ia hadir dalam proses panjang transmisi nilai, dalam teks yang diwariskan, dan dalam kesadaran kolektif yang dibangun dari generasi ke generasi. Sementara itu, Raden Ajeng Kartini mengajarkan pentingnya akses pendidikan formal sebagai jalan pembebasan. Dari sini, kita menemukan dua dimensi yang saling melengkapi: pendidikan sebagai sarana kemajuan, dan pendidikan sebagai penjaga identitas.
Dalam konteks tema nasional “Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Menuju Indonesia Emas 2045”, pembacaan atas kedua tokoh ini melahirkan satu gagasan penting: perempuan berdaya tidak cukup hanya dipahami sebagai perempuan yang maju secara pendidikan dan ekonomi, tetapi juga sebagai perempuan yang berakar kuat pada nilai dan identitasnya.
Begitu pula dengan anak terlindungi—perlindungan tidak hanya berarti aman secara fisik, tetapi juga terlindungi secara kultural dan intelektual, agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi yang kian deras.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan keseimbangan antara arah dan akar. Raden Ajeng Kartini telah menunjukkan jalan ke depan, sementara Colliq Pujié memastikan kita tetap berpijak.
Di antara keduanya, kita menemukan pelajaran bahwa kemajuan tidak boleh tercerabut dari identitas. Sebab masa depan yang kokoh hanya dapat dibangun oleh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memahami dari mana mereka berasal—dan ke mana mereka akan melangkah.
Sejarah yang Terus Terbuka
Sejarah sering hadir kepada kita dalam bentuk yang telah dipilih dan diringkas oleh zaman. Bukan karena ada yang sengaja dilupakan, melainkan karena setiap generasi membutuhkan simbol yang mampu mewakili semangat tertentu.
Dalam konteks itu, Raden Ajeng Kartini tampil sebagai ikon yang tepat bagi narasi modernitas: perempuan yang terdidik, kritis, dan berani melampaui batas-batas sosial yang mengekangnya.
Melalui gagasan dan surat-suratnya, Kartini menjadi penanda penting bahwa kesadaran perempuan Indonesia telah memasuki babak baru—babak di mana pendidikan dan kebebasan berpikir menjadi fondasi utama perubahan.
Namun, sejarah tidak pernah benar-benar selesai ditulis. Ia selalu terbuka untuk dibaca ulang, diperluas, dan diperkaya oleh sudut pandang baru. Ketika kita menggeser lensa dari pusat ke pinggiran, dari Jawa ke wilayah-wilayah lain di Nusantara, kita mulai menyadari bahwa semangat pemberdayaan perempuan tidak hadir dalam satu bentuk tunggal.
Ia tumbuh dalam beragam ekspresi—kadang lantang dalam kata, kadang sunyi dalam tindakan, tetapi tetap mengarah pada tujuan yang sama: menjaga martabat manusia dan keberlanjutan nilai.
Di ruang-ruang budaya yang berbeda itu, perjuangan tidak selalu tampil sebagai perlawanan terbuka terhadap struktur sosial.
Justru dalam banyak kasus, ia hadir dalam kerja-kerja yang lebih tenang namun mendasar: merawat pengetahuan, menyusun ingatan kolektif, dan memastikan bahwa nilai-nilai tidak terputus oleh perubahan zaman.
Bentuk perjuangan seperti ini sering kali tidak segera terlihat, tetapi justru memiliki daya tahan yang panjang, karena bekerja pada lapisan terdalam dari kehidupan masyarakat.
Di tanah Bugis, peran semacam itu dijalankan oleh Colliq Pujié. Ia tidak dikenal melalui retorika besar atau gerakan sosial yang mencolok, melainkan melalui dedikasinya dalam menjaga tradisi literasi Lontaraq dan menyusun naskah-naskah penting seperti La Galigo.
Dalam kerja yang tampak sederhana itu, tersimpan peran besar: menjaga arah berpikir suatu masyarakat, sekaligus memastikan bahwa generasi berikutnya tetap memiliki pijakan identitas yang kuat.
Dengan demikian, membaca sejarah sebagai sesuatu yang terus terbuka memberi kita kesempatan untuk melihat bahwa kontribusi perempuan Nusantara tidak pernah tunggal.
Ia hadir dalam berbagai bentuk, dengan konteks dan strategi yang berbeda. Kartini mungkin menjadi suara yang menggema dalam narasi nasional, tetapi Colliq Pujié adalah gema yang bekerja dalam kedalaman—menjaga agar suara peradaban itu tidak pernah benar-benar hilang.
Perempuan, Pena, dan Peradaban
Colliq Pujié hidup pada abad ke-19, jauh sebelum Raden Ajeng Kartini lahir. Ia bukan hanya seorang bangsawan dalam struktur sosial Bugis, tetapi juga seorang intelektual yang memainkan peran penting dalam pelestarian tradisi literasi melalui naskah Lontaraq.
Di tengah perubahan zaman dan masuknya pengaruh luar, ia memilih jalan yang tidak selalu tampak mencolok: menjaga pengetahuan agar tidak hilang, merawat teks agar tetap hidup, dan memastikan bahwa warisan intelektual tetap dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Salah satu kontribusinya yang paling monumental adalah keterlibatannya dalam penyusunan dan penyalinan epos besar La Galigo. Karya ini bukan sekadar rangkaian cerita atau legenda, melainkan himpunan pengetahuan yang luas, yang memuat kosmologi, etika, sejarah, serta pandangan hidup masyarakat Bugis.
Dalam banyak hal, La Galigo berfungsi sebagai “kurikulum peradaban”—sebuah sumber nilai yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memahami dunia dari generasi ke generasi.
Dalam proses pelestarian itulah, Colliq Pujié memainkan peran yang jauh melampaui sekadar penyalin naskah. Ia terlibat dalam menyusun, merapikan, dan menjaga konsistensi teks, sebuah kerja intelektual yang menuntut ketelitian, pemahaman, dan tanggung jawab terhadap makna.
Dengan kata lain, ia adalah kurator pengetahuan—seseorang yang tidak hanya menyimpan warisan, tetapi juga menentukan bagaimana warisan itu dihadirkan dan dipahami oleh masa depan.
Peran ini menjadi semakin penting jika kita menyadari bahwa dalam tradisi literasi, apa yang ditulis dan diwariskan akan sangat menentukan arah ingatan kolektif suatu masyarakat.
Dalam tangan Colliq Pujié, teks bukan sekadar tulisan, tetapi medium yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia menjaga agar nilai-nilai tidak tercerabut, agar identitas tidak terhapus, dan agar peradaban tetap memiliki pijakan.
Di sinilah letak keistimewaannya: ia bekerja dalam sunyi, tanpa sorotan besar, tetapi dampaknya melintasi zaman. Apa yang ia lakukan mungkin tidak langsung terlihat sebagai gerakan perubahan, tetapi justru menjadi fondasi bagi keberlanjutan pengetahuan. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, kerja-kerja semacam inilah yang memastikan bahwa kemajuan tidak kehilangan makna.
Literasi sebagai Bentuk Kekuasaan
Kita sering memahami kekuasaan dalam bentuk yang kasat mata: politik, ekonomi, atau jabatan yang memberi wewenang langsung atas orang lain.
Namun pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ada bentuk kekuasaan lain yang bekerja lebih senyap, tetapi justru menentukan arah peradaban: literasi.
Dalam hal ini, Colliq Pujié menghadirkan contoh yang kuat—bahwa kemampuan mengelola pengetahuan dapat menjadi kekuatan yang membentuk cara berpikir suatu masyarakat.
Menulis berarti menyimpan, bukan sekadar kata-kata, tetapi juga pengalaman, nilai, dan pandangan hidup. Menyusun berarti menentukan makna, memilih mana yang dianggap penting, mana yang layak diwariskan, dan bagaimana sebuah kisah diceritakan kepada generasi berikutnya.
Dalam kerja-kerja literasi seperti itulah, kekuasaan bekerja secara halus: ia tidak memaksa, tetapi membentuk kesadaran.
Dengan menjaga dan merawat naskah-naskah Lontaraq, termasuk yang berkaitan dengan La Galigo, Colliq Pujié sesungguhnya menjaga ingatan kolektif masyarakat Bugis.
Ia memastikan bahwa nilai-nilai tidak hilang, bahwa identitas tidak terputus, dan bahwa generasi berikutnya tetap memiliki rujukan untuk memahami dirinya. Dalam pengertian ini, ia tidak hanya melestarikan teks, tetapi juga menjaga arah peradaban.
Dalam bahasa hari ini, peran itu dapat dipahami sebagai penjaga arsip, editor pengetahuan, sekaligus produsen makna. Ia bukan hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga membentuk cara masa depan membaca masa lalu tersebut.
Di tengah era digital yang ditandai oleh limpahan informasi, peran seperti ini justru semakin relevan. Sebab ketika informasi melimpah, yang menjadi langka bukan lagi data, melainkan makna.
Karena itu, literasi tidak dapat lagi dipahami sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai kemampuan mengelola pengetahuan secara kritis dan bermakna.
Di titik ini, pelajaran dari Colliq Pujié menjadi sangat penting: bahwa kekuasaan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras dan terlihat, tetapi bisa hadir dalam kesabaran menjaga teks, ketelitian menyusun makna, dan keteguhan merawat ingatan bersama.
Kartini dan Colliq Pujié: Arah dan Akar
Jika kita membaca keduanya secara bersamaan, akan tampak bahwa Raden Ajeng Kartini dan Colliq Pujié tidak berada dalam posisi yang saling berlawanan.
Justru sebaliknya, mereka menghadirkan dua dimensi penting yang saling melengkapi dalam perjalanan perempuan Indonesia. Keduanya bergerak dalam ruang dan konteks yang berbeda, namun sama-sama menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membentuk arah peradaban.
Kartini adalah arah. Ia membuka jalan menuju masa depan melalui gagasan tentang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir. Dalam pemikirannya, perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai subjek yang memiliki hak untuk belajar, menentukan pilihan, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Arah yang ia tunjukkan adalah arah kemajuan—sebuah dorongan untuk melampaui batas-batas lama menuju kemungkinan yang lebih luas.
Sementara itu, Colliq Pujié adalah akar. Ia memastikan bahwa perjalanan menuju masa depan tidak kehilangan pijakan.
Melalui dedikasinya dalam menjaga literasi dan pengetahuan lokal, ia merawat nilai-nilai yang menjadi fondasi identitas. Akar yang ia jaga bukan sekadar tradisi, tetapi juga makna—cara memahami dunia, hubungan antarmanusia, dan posisi manusia dalam semesta.
Tanpa arah, langkah akan kehilangan tujuan. Tanpa akar, langkah akan kehilangan makna. Karena itu, masa depan tidak cukup dibangun hanya dengan visi ke depan, tetapi juga dengan kesadaran ke dalam. Dalam pertemuan antara arah dan akar inilah, kita menemukan keseimbangan yang memungkinkan kemajuan tetap berpijak, dan tradisi tetap hidup dalam perubahan.
Gagasan Baru: Berdaya yang Berakar
Tema nasional “Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Menuju Indonesia Emas 2045” selama ini kerap dibaca dalam kerangka modern: akses pendidikan, kemandirian ekonomi, dan partisipasi publik. Semua itu tentu penting sebagai indikator kemajuan.
Namun, ada satu dimensi yang sering luput dari perhatian, yakni akar budaya dan kedalaman makna. Kemajuan tanpa pijakan nilai berisiko melahirkan generasi yang unggul secara teknis, tetapi rapuh dalam identitas.
Dari pembacaan atas Raden Ajeng Kartini dan Colliq Pujié, kita dapat merumuskan satu gagasan baru yang lebih utuh tentang pemberdayaan. Kartini mengajarkan pentingnya melangkah maju—membuka akses pendidikan dan kebebasan berpikir.
Sementara Colliq Pujié menunjukkan pentingnya menjaga pijakan—merawat pengetahuan dan nilai yang membentuk jati diri. Keduanya bertemu dalam satu titik: pemberdayaan sebagai proses yang tidak hanya bergerak ke depan, tetapi juga berakar ke dalam.
Dari sinilah lahir pemahaman bahwa perempuan berdaya bukan hanya perempuan yang maju, tetapi perempuan yang berakar dan mampu memaknai. Ia tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memahami konteks budaya yang melingkupinya. Ia tidak hanya hadir dalam ruang publik, tetapi juga menjadi penjaga nilai dalam ruang kehidupan yang lebih luas.
Perempuan berdaya, dalam pengertian ini, adalah mereka yang terdidik secara intelektual, kuat secara identitas, dan mampu menjadi penghubung antar generasi. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, memastikan bahwa nilai-nilai tidak terputus di tengah arus perubahan.
Perannya tidak hanya menciptakan kemajuan, tetapi juga menjaga keberlanjutan makna.
Dengan demikian, pemberdayaan tidak lagi dimaknai semata sebagai upaya keluar dari keterbatasan, tetapi juga sebagai proses masuk lebih dalam ke dalam makna. Ia adalah perjalanan ganda: bergerak maju sekaligus menggali ke dalam.
Dalam keseimbangan itulah, perempuan tidak hanya menjadi agen perubahan, tetapi juga penjaga arah perubahan itu sendiri.
Anak Terlindungi: Lebih dari Sekadar Aman
Begitu pula dengan konsep “anak terlindungi”, yang selama ini lebih sering dipahami dalam kerangka perlindungan fisik dan hukum. Anak dianggap terlindungi ketika bebas dari kekerasan, mendapatkan akses kesehatan, serta berada dalam sistem yang menjamin hak-haknya secara formal. Semua itu tentu mendasar dan tidak dapat diabaikan.
Namun, jika perlindungan hanya berhenti pada aspek tersebut, kita berisiko melupakan dimensi lain yang tidak kalah penting: perlindungan kultural dan intelektual.
Dalam konteks ini, warisan pengetahuan seperti La Galigo yang dijaga oleh Colliq Pujié memberi pelajaran berharga bahwa perlindungan anak juga berarti menjaga kesinambungan nilai.
Anak tidak hanya membutuhkan rasa aman, tetapi juga membutuhkan arah—sebuah pemahaman tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang membentuk cara ia melihat dunia. Tanpa itu, perlindungan menjadi sekadar lapisan luar yang tidak menyentuh inti pembentukan manusia.
Melalui perspektif ini, perlindungan anak dapat dimaknai secara lebih utuh. Anak perlu mengenal asal-usulnya agar ia memiliki pijakan dalam menghadapi perubahan.
Ia perlu memahami nilai-nilai yang membentuk dirinya agar mampu membedakan yang esensial dan yang sementara. Dan ia perlu memiliki identitas yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing dalam arus globalisasi yang serba cepat dan sering kali tanpa arah.
Maka, konsep “anak terlindungi” dapat dirumuskan ulang sebagai perlindungan yang mencakup tiga lapisan sekaligus: perlindungan tubuh, perlindungan pikiran, dan perlindungan identitas. Ketiganya tidak dapat dipisahkan, karena membentuk satu kesatuan dalam pertumbuhan manusia yang utuh.
Perlindungan tubuh menjaga keberlangsungan hidup, perlindungan pikiran menumbuhkan kecerdasan, dan perlindungan identitas memberi makna atas kehidupan itu sendiri.
Tanpa keseimbangan di antara ketiganya, generasi masa depan mungkin akan tumbuh menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi kehilangan arah dalam menentukan nilai dan tujuan hidup.
Di sinilah pentingnya membaca kembali peran tokoh-tokoh seperti Colliq Pujié, yang menunjukkan bahwa menjaga pengetahuan dan nilai bukan sekadar urusan masa lalu, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan manusia.
Menuju Indonesia Emas: Sintesis Masa Depan
Indonesia Emas 2045 kerap dibayangkan sebagai puncak kemajuan—ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan lompatan teknologi yang signifikan. Namun, di balik semua indikator itu, esensi sesungguhnya terletak pada kualitas manusia Indonesia. Sebab kemajuan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan inovasi, tetapi oleh manusia yang mampu memberi arah, makna, dan nilai pada setiap capaian tersebut.
Manusia Indonesia yang dibutuhkan ke depan bukan hanya yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang matang secara karakter. Ia bukan hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga memiliki pijakan nilai yang kokoh. Tanpa itu, kemajuan mudah menjadi rapuh—cepat tumbuh, tetapi mudah goyah. Karena itu,
pembangunan manusia tidak cukup berhenti pada peningkatan kapasitas, tetapi harus menyentuh dimensi kesadaran dan identitas.
Di titik inilah, kita membutuhkan sebuah sintesis. Semangat maju yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini—tentang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir—perlu dipertemukan dengan kekuatan akar yang dijaga oleh Colliq Pujié—tentang nilai, identitas, dan keberlanjutan pengetahuan. Keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua unsur yang harus disatukan.
Sintesis ini menghadirkan sebuah pertemuan antara modernitas dan tradisi, antara inovasi dan identitas. Modernitas memberi kita kecepatan dan kemampuan untuk bergerak maju, sementara tradisi memberi kita arah dan kedalaman makna.
Tanpa modernitas, kita tertinggal. Tanpa tradisi, kita kehilangan jati diri. Dalam keseimbangan keduanya, kita menemukan fondasi bagi masa depan yang tidak hanya maju, tetapi juga bermakna.
Dengan demikian, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target waktu, melainkan visi tentang manusia Indonesia yang utuh—yang mampu berjalan jauh tanpa kehilangan akar, dan mampu berakar kuat tanpa takut melangkah ke depan.
Menemukan Kembali yang Telah Ada
Menghadirkan kembali nama Colliq Pujié dalam wacana nasional bukanlah upaya untuk menulis ulang sejarah secara radikal, apalagi menegasikan peran tokoh yang telah lebih dahulu dikenal seperti Raden Ajeng Kartini.
Ini adalah langkah sederhana namun penting: membuka kembali ruang-ruang pemahaman yang mungkin selama ini belum banyak diterangi, agar sejarah dapat dibaca dengan lebih utuh dan berlapis.
Sebab sejarah, pada akhirnya, bukan semata tentang siapa yang paling sering disebut atau paling dikenal, melainkan tentang siapa saja yang telah memberi makna dalam perjalanan panjang suatu bangsa. Ia adalah kumpulan jejak yang saling melengkapi—ada yang tampil di permukaan sebagai simbol, ada pula yang bekerja dalam kedalaman sebagai fondasi.
Keduanya sama-sama penting dalam membentuk arah peradaban.
Dalam kerangka itu, Colliq Pujié hadir sebagai pengingat bahwa perempuan Nusantara telah lama mengambil bagian dalam produksi pengetahuan dan penjagaan nilai. Ia menunjukkan bahwa kontribusi tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat besar, tetapi dapat bekerja secara perlahan dan berkelanjutan, membentuk cara berpikir dan identitas generasi.
Menemukan kembali figur-figur seperti Colliq Pujié berarti juga menemukan kembali dimensi lain dari sejarah kita—dimensi yang menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan memiliki akar yang panjang dalam tradisi lokal. Dari sana, kita belajar bahwa masa depan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh, karena sering kali ia telah tertanam dalam warisan yang telah kita miliki, menunggu untuk dipahami kembali.
Menyatukan Akar dan Arah
Pada akhirnya, perjalanan menuju Indonesia Emas adalah perjalanan panjang yang menuntut keseimbangan antara gerak dan pijakan. Kita tidak bisa hanya berlari ke depan tanpa memahami dari mana kita berasal, sebagaimana kita juga tidak bisa terus bertahan pada akar tanpa keberanian untuk melangkah.
Kemajuan dan identitas bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua kekuatan yang harus berjalan beriringan agar masa depan tidak kehilangan arah sekaligus tidak kehilangan makna.
Dalam lanskap itulah, Raden Ajeng Kartini dan Colliq Pujié menghadirkan pelajaran yang saling melengkapi. Kartini telah menunjukkan jalan—mendorong perempuan untuk berani berpikir, belajar, dan melampaui batas. Sementara Colliq Pujié telah menjaga pijakan—merawat pengetahuan, nilai, dan identitas agar tetap hidup di tengah perubahan.
Keduanya mengajarkan bahwa kemajuan tidak cukup hanya dengan visi ke depan, tetapi juga membutuhkan kesadaran ke dalam.
Di antara arah dan akar itulah kita menemukan pelajaran penting: bahwa masa depan terbaik adalah masa depan yang dibangun dengan kesadaran penuh akan masa lalu. Masa depan yang tidak tercerabut, tetapi juga tidak terbelenggu. Masa depan yang tumbuh dari akar yang kuat, namun tetap menjulang ke langit kemungkinan.
Maka benar adanya, sebelum Kartini, ada Colliq Pujié. Pernyataan ini bukan untuk membandingkan, melainkan untuk melengkapi cara kita memahami sejarah dan masa depan sekaligus. Sebab di sanalah kita melihat bahwa perempuan Nusantara telah lama menjadi penggerak peradaban—baik melalui suara yang menggema, maupun melalui kerja sunyi yang bertahan lintas zaman.
Dan mungkin, masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mempertemukan keduanya—dalam diri perempuan-perempuan yang tidak hanya berdaya, tetapi juga berakar; tidak hanya bergerak maju, tetapi juga membawa serta nilai-nilai yang memberi arah pada setiap langkahnya.
Perempuan berdaya di Indonesia tidak lahir tiba-tiba pada era Kartini, tetapi telah berakar kuat dalam tradisi lokal melalui figur seperti Colliq Pujié.


















Komentar