Banner Iklan

Kampus Mesti Evaluasi Sistem Pengaderan di Organisasi Mahasiswa dan Memutus Mata Rantai Perpeloncoan

11 September 2026 10:47 WIB
Penulis : Tri Pamungkas
Editor : Salman Alfarisi
Kampus Mesti Evaluasi Sistem Pengaderan di Organisasi Mahasiswa dan Memutus Mata Rantai Perpeloncoan i

JAKARTA – CELOTEH.ONLINE – Kasus kekerasan fisik hingga perpeloncoan kembali marak di perguruan tinggi. Terbaru, ada kasus video dugaan perpeloncoan yang diikuti dengan kekerasan fisik di FMIPA Universitas Hasanuddin yang viral. 

Sebelumnya,  juga ada kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya saat PKKMB di Universitas Halu Oleo.

Merespon fenomena tersebut, akademisi Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia, Supriadi M. mengungkapkan bahwa segala bentuk perpeloncoan dengan kekerasan fisik tidak memiliki pembenaran apapun.

“Apalagi kalau sudah ada intimidasi, penghinaan atau kekerasan. Kampus kan tempatnya orang belajar, membentuk karakter, kedewasaan dan cara berpikir. Jadi sangat disayangkan jika sampai atas nama kaderisasi, malah kita biasakan budaya takut sama senioritas,” katanya, Kamis, 10 September 2026.

Menurutnya, yang lebih berbahaya dari itu adalah normalisasi dan menganggap wajar dengan alasan “dulu zaman senior lebih keras” sehingga melanggengkan mata rantai perundungan tersebut.

“Kampus harus berani evaluasi sistem kaderisasinya secara menyeluruh. Jangan baru ada kasus baru bergerak. Harus jelas kegiatan apa yang boleh, apa yang tidak boleh, kemudian pengawasannya juga harus nyata. Organisasi mahasiswa juga harus dilibatkan,” katanya.

Alumnus UIN Alauddin Makassar tersebut menekankan, kaderisasi tetap penting, tapi caranya yang harus diperbaiki.

“Tradisi yang bagus dipertahankan, tapi kalau sudah merendahkan, mengintimidasi apalagi melakukan kekerasan, itu harus dihentika dan jika perlu dihilangkan sampai akar-akarnya, senioritasnya kita geser jadi keteladanan, ini yang harus dan penting,” katanya.

Senior itu mestinya jadi pembimbing, bukan penguasa bagi juniornya. Sehingga, waktu PKKMB mestinya senior membantu junior beradaptasi, memperkenalkan budaya kampus dan membangun solidaritas.

“Jika ingin mendisiplinkan junior, ya melalui komunikasi yang baik dan contoh yang baik, bukan dibentak-bentak, dipermalukan atau ditakut-takuti,” katanya.

Dia berharap, kaderisasi ke depannya sudah seharusnya melahirkan generasi yang lebih baik, bukan mewariskan luka yang kemudian dibalas kepada generasi berikutnya.

(Suherman)

Tags:

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Terkait

Rekomendasi Lain

Infografik

Infografik 1
Infografik 2

Baca Juga