Awan Tebal dan Kabut Batasi Pencarian Udara Pesawat ATR 400 di Maros
Makassar, Celoteh.Online – Cuaca buruk menjadi salah satu kendala utama dalam proses pencarian pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport yang dilaporkan hilang kontak di kawasan pegunungan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Hinga Minggu dini hari, tim gabungan masih menghadapi keterbatasan jarak pandang akibat awan tebal yang menutup area Gunung Bulu Saraung dan sekitarnya.
Baca Juga : Tim SAR Bagi Sektor Pencarian, Helikopter Caracal dan H-630 Dikerahkan di Pegunungan Maros
Pantauan petugas di lapangan menunjukkan kondisi cuaca di wilayah pegunungan Maros cenderung berubah cepat.
Awan rendah dan kabut tebal menyelimuti puncak gunung, sehingga menghambat pencarian melalui udara yang sebelumnya direncanakan menggunakan helikopter.
Situasi ini memaksa tim SAR untuk menyesuaikan strategi pencarian dengan memaksimalkan pergerakan darat sambil menunggu kondisi cuaca membaik.
Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko menjelaskan bahwa upaya pemantauan udara sempat dilakukan, namun belum berjalan optimal.
“Pemantauan dari udara belum maksimal karena pandangan terbatas akibat awan,” ujarnya saat doorstop konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, Jalan Bandara Baru Internasional Sultan Hasanuddin, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
Menurut Bangun, helikopter Caracal TNI AU masih terus disiagakan untuk melakukan penyisiran dari udara.
Namun penerbangan hanya dapat dilakukan apabila kondisi cuaca memungkinkan dan memenuhi standar keselamatan penerbangan.
“Ada pergerakan awan yang cukup cepat di lokasi, ini tentu menjadi perhatian kami,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Basarnas Makassar, Arif Anwar. Ia menyebut cuaca menjadi faktor krusial dalam menentukan efektivitas pencarian, terutama di medan pegunungan dengan kontur curam dan vegetasi lebat.
“Sampai saat ini, cuaca masih menjadi tantangan. Pencarian udara sangat bergantung pada jarak pandang,” ujar Arif.
Meski demikian, Arif Anwar memastikan upaya pencarian tidak dihentikan. Tim SAR gabungan tetap bergerak melalui jalur darat menuju titik-titik yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat, termasuk area Pos 3 Gunung Bulu Saraung.
Posko SAR gabungan telah didirikan di Tompobulu untuk mempercepat koordinasi dan mobilisasi personel.
“Kami tetap melakukan pencarian darat sambil menunggu peluang pencarian udara. Jika cuaca membaik, helikopter akan segera diterjunkan,” jelasnya.
Cuaca buruk juga berdampak pada rencana evakuasi apabila korban atau puing pesawat ditemukan. Tim gabungan telah menyiapkan dua skema evakuasi, yakni melalui udara menggunakan helikopter dan jalur darat secara manual.
Opsi udara akan diprioritaskan apabila cuaca memungkinkan, sementara jalur darat menjadi alternatif utama jika kondisi tidak mendukung penerbangan.
Sementara itu, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Suryanto menegaskan bahwa fokus utama saat ini masih pada operasi kemanusiaan.
Faktor cuaca, menurutnya, juga menjadi salah satu aspek yang akan dicermati setelah operasi SAR selesai dan investigasi resmi dimulai.
“Kami belum masuk pada tahap analisis penyebab. Saat ini prioritasnya adalah menemukan lokasi dan membantu proses SAR,” kata Suryanto.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, dan unsur terkait lainnya masih terus melakukan pencarian dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca di wilayah pegunungan Maros.
Operasi SAR akan disesuaikan secara dinamis mengikuti kondisi lapangan demi menjaga keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Kontributor : Dwiki Luckinto Septiawan


















Komentar