×
Banner Iklan

Orang Tua Wajib Tahu! Strategi “Puasa Bedug” untuk Melatih Ketahanan Fisik Anak

13 Februari 2026 17:44 WIB
Editor : Salman Alfarisi
Orang Tua Wajib Tahu! Strategi “Puasa Bedug” untuk Melatih Ketahanan Fisik Anak i

CELOTEH.ONLINE – Ramadhan segera menyapa. Di balik aroma khas hidangan berbuka dan syahdunya suara tadarus, tersimpan kesempatan emas bagi orang tua untuk menjalankan misi Tarbiyatul Aulad (pendidikan anak).

Menyiapkan si kecil menyambut bulan suci bukan sekadar soal menahan lapar, melainkan memadukan pemahaman fikih, sentuhan psikologis, dan keteladanan nyata.

Memahami Batas Kewajiban (Fikih Puasa)

Dalam literatur klasik seperti “Pedoman Puasa” karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, ditegaskan bahwa kewajiban puasa hanya jatuh pada individu Mukallaf.

Syarat utamanya meliputi menjadi seorang Muslim, telah baligh (dewasa secara biologis), berakal sehat, memiliki kemampuan fisik yang cukup, serta mengetahui masuknya bulan Ramadhan.

Meskipun anak yang belum baligh secara hukum belum dibebani kewajiban, di sinilah peran orang tua sebagai pendidik pertama dimulai.

Mengapa Harus Melatih Anak Sejak Dini?

Syekh Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad fil Islam” menekankan bahwa latihan ibadah sebelum masa beban kewajiban tiba memiliki tujuan jangka panjang yang mulia:

Pembiasaan (Al-Adah): Agar saat mencapai usia baligh, puasa bukan lagi beban yang mengagetkan, melainkan kebiasaan yang sudah melekat secara alami.

Pendidikan Ruhani: Melatih kontrol diri, kesabaran, dan menumbuhkan empati terhadap kaum dhuafa sejak usia dini.

Membangun Identitas Muslim: Menanamkan kebanggaan pada identitas keislaman mereka melalui partisipasi aktif dalam syiar Ramadhan.

Strategi Praktis: Melatih dengan Metode Bertahap

Mendidik anak memerlukan seni dan kesabaran melalui metode At-Tadrij (bertahap). Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan:

Ciptakan Atmosfer Kegembiraan
Jangan jadikan Ramadhan sebagai bulan “larangan”.

Sebaliknya, buatlah menjadi bulan yang paling dinanti.

Hiasi rumah dengan dekorasi sederhana, libatkan anak memilih menu berbuka, dan ceritakan kisah-kisah heroik para Nabi.

Penerapan Puasa Berjenjang

Mulailah dari latihan puasa beberapa jam (misalnya hingga jam 10 pagi), kemudian meningkat ke “Puasa Bedug” (hingga Dzuhur), hingga akhirnya mereka mampu berpuasa penuh saat fisik sudah terlihat kuat (biasanya pada usia 7-10 tahun).

Sahur yang Menyenangkan

Sahur sering menjadi tantangan terberat. Pastikan suasana sahur ceria dengan menyajikan makanan favorit mereka.

Berikan pujian yang tulus karena mereka telah berhasil bangun pagi untuk beribadah.

Sistem Penghargaan (Reward)

Bagi psikologi anak, apresiasi adalah motivasi awal yang efektif. Berikan pelukan, pujian, atau hadiah kecil jika mereka mencapai target.

Seiring waktu, arahkan pemahaman mereka bahwa hadiah terbesar datang dari Allah SWT.

Puasa: Menyehatkan, Bukan Melemahkan

Ketakutan bahwa anak akan sakit saat berpuasa seringkali merupakan kekhawatiran yang tidak perlu. Secara medis, jika asupan nutrisi saat sahur dan berbuka seimbang, puasa justru memberikan manfaat luar biasa:

Detoksifikasi Alami: Memberi waktu istirahat bagi organ pencernaan.
Meningkatkan Imunitas: Membantu tubuh melakukan regenerasi sel darah putih.

Kontrol Gula Darah: Melatih tubuh agar tidak terus-menerus bergantung pada asupan gula dari camilan harian.

Menghapus Stigma “Tidur Sedunia”
Tanamkan pada anak bahwa puasa bukanlah penghalang aktivitas.

Sampaikan bahwa pahlawan Islam di masa lalu justru meraih kemenangan besar saat sedang berpuasa.

Ajak mereka tetap aktif secara wajar dengan kegiatan ringan seperti membaca buku atau membantu menyiapkan takjil, sehingga mereka melihat bahwa orang tua pun tetap produktif meski sedang berpuasa. (*)

Tags:

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Terkait

Rekomendasi Lain

Infografik

Infografik 1
Infografik 2

Baca Juga