Tim SAR Bagi Sektor Pencarian, Helikopter Caracal dan H-630 Dikerahkan di Pegunungan Maros
Makassar, Celoteh.Online – Operasi pencarian pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, diperkuat melalui kombinasi pencarian darat dan udara.
Tim SAR gabungan membagi kekuatan personel untuk menjangkau medan pegunungan Gunung Bulu Saraung yang dikenal curam, tertutup vegetasi lebat, dan sulit diakses.
Baca Juga : KNKT Masih Kumpulkan Data Awal Terkait Pesawat ATR 400 yang Hilang di Maros
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan mengatakan, pencarian dilakukan dengan membagi tim ke dalam beberapa sektor.
Jalur darat menjadi fokus utama menyusul adanya laporan temuan awal berupa serpihan dan kertas di kawasan puncak Gunung Bulu Saraung, tepatnya di Pos 3 jalur pendakian.
“Untuk pencarian darat, tim bergerak dari Tompobulu menuju puncak. Malam ini juga telah didirikan posko SAR gabungan untuk mempercepat pergerakan personel,” kata Andi Sultan dalam konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, Jalan Bandara Baru Internasional Sultan Hasanuddin, Sabtu (17/1).
Ia menjelaskan, medan pencarian memiliki tingkat kesulitan tinggi. Jalur menuju titik temuan awal hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki, dengan estimasi waktu tempuh sekitar satu jam dari posko menuju lokasi serpihan.
Kondisi tersebut membuat pergerakan tim harus dilakukan secara bertahap dan terukur.
Selain pencarian darat, unsur udara dikerahkan untuk memperluas jangkauan pemantauan.
TNI Angkatan Udara menurunkan helikopter Caracal untuk melakukan penyisiran dari udara, terutama di area yang tidak dapat dijangkau oleh tim darat.
Mayjen TNI Bangun Nawoko menyebutkan, helikopter Caracal sebelumnya sempat mendeteksi titik api di sekitar kawasan Gunung Bulu Saraung.
Namun, titik tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut untuk memastikan keterkaitannya dengan pesawat yang hilang kontak.
“Helikopter Caracal melakukan pemantauan, namun hasilnya masih perlu cross check karena cuaca dan awan cukup mengganggu pandangan,” ujar Bangun Nawoko.
Selain Caracal, TNI AU juga menyiapkan helikopter H-630 untuk mempercepat pencarian.
Helikopter ini direncanakan digunakan apabila kondisi cuaca memungkinkan, mengingat jarak tempuh dari Bandara Sultan Hasanuddin ke lokasi pencarian hanya sekitar enam menit melalui jalur udara.
Andi Sultan menambahkan, helikopter akan difungsikan tidak hanya untuk observasi, tetapi juga untuk evakuasi korban apabila ditemukan.
Seluruh korban, baik dalam kondisi selamat maupun meninggal dunia, direncanakan dievakuasi ke Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin sebelum dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Dody Sardjoto di Mandai, Maros.
“Jika cuaca memungkinkan, evakuasi akan kami lakukan lewat udara. Namun jika tidak memungkinkan, jalur darat tetap menjadi opsi utama,” ujarnya.
Pencarian udara pada Sabtu sore belum berjalan maksimal akibat cuaca berawan dan jarak pandang terbatas.
Meski demikian, tim memastikan operasi tidak dihentikan dan akan dilanjutkan secara intensif pada hari berikutnya dengan memperluas sektor pencarian.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AD, TNI AU, Polri, serta unsur terkait lainnya masih melakukan penyisiran di sekitar Gunung Bulu Saraung.
Baca Juga : Hilang Kontak di Sulsel, Pesawat ATR 400 Digunakan KKP untuk Pengawasan Perairan
Fokus utama operasi tetap diarahkan pada penemuan lokasi pesawat dan korban, dengan mempertimbangkan keselamatan personel di lapangan.
Operasi SAR ini terus berlangsung dan terbuka terhadap perkembangan baru, seiring upaya gabungan darat dan udara yang diintensifkan di wilayah pegunungan Maros.
Kontributor : Dwiki Luckinto Septiawan

















Komentar