Banner Iklan

Semua Akan “Skena” pada Waktunya

7 Oktober 2026 13:27 WIB
Penulis : Salman Alfarisi
Editor : Redaksi
Semua Akan “Skena” pada Waktunya i
Oleh : Iqra Muslim Said
(Pemuda Sulawesi Selatan)

CELOTEH.ONLINE – Belakangan ini ada yang menarik di kalangan anak muda Kota Palopo. Orang-orang yang sebelumnya tampil biasa saja, tiba-tiba berubah menjadi begitu “skena”. Celana yang lebih longgar, kaus dengan desain tertentu, sepatu yang entah sejak kapan menjadi wajib, rambut yang ditata sedemikian rupa, kamera analog di tangan, sampai daftar musik yang mendadak dipenuhi band-band yang sebelumnya mungkin tidak pernah terdengar. Tidak ada yang salah dengan perubahan itu. Bukankah manusia memang selalu berubah? Tetapi yang menarik untuk dipertanyakan adalah: apakah kita sedang menemukan identitas, atau sekadar sedang mengenakan identitas yang sedang populer?

Kata skena sendiri sebenarnya tidak sesederhana pakaian dan gaya nongkrong. Ia berangkat dari scene, sebuah lingkungan sosial yang mempertemukan orang-orang dengan ketertarikan, aktivitas, dan ekspresi budaya tertentu. Dalam sebuah skena musik, misalnya, ada musisi, penonton, ruang pertunjukan, karya, komunitas, dan interaksi yang membuatnya hidup. Karena itu, menjadi bagian dari sebuah skena semestinya tidak berhenti pada bagaimana seseorang terlihat, tetapi juga bagaimana ia terlibat. Masalahnya, di zaman ketika media sosial menjadikan penampilan sebagai bahasa identitas, batas antara menjadi bagian dari kultur dan terlihat seperti bagian dari kultur semakin tipis.

Mungkin itulah sebabnya hari ini kita mudah menemukan orang yang tampak sangat berbeda hanya karena sebuah tren sedang naik. Apa yang kemarin dianggap biasa, hari ini dianggap kurang menarik. Apa yang dulu hanya dipakai oleh kelompok tertentu, kini menjadi referensi fashion yang diproduksi dan dikonsumsi secara massal. Skena akhirnya mengalami paradoks: sesuatu yang pada awalnya lahir sebagai ekspresi komunitas justru dapat berubah menjadi gaya yang dikonsumsi siapa saja. Ketika sebuah kultur masuk ke dalam logika tren, ia kehilangan sebagian sifat eksklusifnya. Bukan berarti menjadi buruk, tetapi maknanya mulai bergeser.

Namun, saya kira terlalu mudah jika kita kemudian mencibir mereka sebagai “anak ikut-ikutan”. Anak muda memang selalu berada dalam proses mencari identitas. Hari ini mereka menyukai musik tertentu, besok bisa berubah. Hari ini mereka berpakaian dengan gaya tertentu, beberapa bulan kemudian mungkin menemukan gaya yang sama sekali berbeda. Itu bagian dari proses menjadi dewasa. Yang perlu dipersoalkan bukan perubahan penampilannya, melainkan ketika seseorang merasa cukup menjadi bagian dari suatu kultur hanya karena berhasil menguasai simbol-simbol luarnya. Sebab sebuah kultur tidak pernah hanya berbicara tentang apa yang kita pakai, tetapi juga tentang apa yang kita yakini, kerjakan, dan tinggalkan.

Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap budaya pencitraan. Media sosial membuat identitas semakin mudah dipertontonkan. Kita tidak hanya hidup sebagai diri sendiri, tetapi juga sebagai versi diri yang ingin dilihat orang lain. Nongkrong menjadi konten, musik menjadi estetika, pakaian menjadi pernyataan, bahkan kesederhanaan pun kadang dipoles agar terlihat sederhana. Akhirnya muncul pertanyaan yang agak mengganggu: apakah kita benar-benar menyukai sesuatu, atau kita menyukainya karena ingin terlihat sebagai seseorang yang menyukai sesuatu? Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang disebut anak skena. Ia berlaku bagi hampir semua anak muda yang hidup di tengah budaya digital, termasuk mereka yang sedang membangun komunitas dan ruang kreatif di Kota Palopo.

Tetapi mungkin memang begitulah zaman bekerja. Setiap generasi mempunyai cara sendiri untuk menemukan identitasnya. Kalau hari ini banyak anak muda menjadi “skena”, mungkin itu bukan sesuatu yang harus ditertawakan. Barangkali mereka sedang mencari ruang untuk merasa diterima, menemukan teman dengan selera yang sama, atau sekadar mencoba bentuk baru dari dirinya sendiri. Di Kota Palopo, pencarian itu dapat tumbuh melalui komunitas musik, ruang seni, kegiatan kreatif, tempat berkumpul, dan berbagai inisiatif anak muda yang mempertemukan gagasan serta minat yang beragam. Yang penting adalah jangan sampai pencarian identitas berhenti pada penampilan. Sebab pakaian dapat dibeli, playlist dapat dibuat dalam hitungan menit, dan gaya dapat ditiru. Tetapi gagasan, karya, konsistensi, dan kontribusi tidak bisa dipalsukan semudah itu.

Pada akhirnya, semua akan skena pada waktunya. Mereka yang hari ini baru mengenal gaya tertentu mungkin besok menemukan dunia yang lebih luas daripada sekadar pakaian dan tempat nongkrong. Mereka mungkin menemukan musik, sastra, seni, komunitas, atau gagasan yang benar-benar mereka perjuangkan. Di Kota Palopo, perjalanan itu bisa dimulai dari ruang-ruang kecil yang sederhana, tetapi tumbuh melalui pertemuan, karya, dan keberanian untuk menciptakan sesuatu. Dan ketika tren itu akhirnya berlalu, yang tersisa bukan lagi bagaimana seseorang terlihat, melainkan siapa dirinya sebenarnya. Sebab menjadi “skena” mungkin hanya sebuah fase. Tetapi menemukan identitas, membangun kultur, dan menghasilkan sesuatu yang berarti adalah perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tags:

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Terkait

Rekomendasi Lain

Infografik

Infografik 1
Infografik 2

Baca Juga