Opini  

Jokowi & Prabowo Adalah Pelaku !Sedangkan Kita Semua adalah Korban.

Oleh : Muh Arya Dwi Madaprama

Belakangan ini Indonesia kembali dihebohkan oleh suatu peristiwa penyadapan yang menargetkan presiden dan beberapa tokoh politik maupun akademisi. Bukan hanya itu, pelaku maupun dalang sementara yang diringkus oleh pihak aparatur penegakan hukum juga tatkala jauh lebih mengagetkan. sebab kejadian tersebut melibatkan seorang mantan pimpinan tertinggi kepolisian (Listyo sigit prabowo) beserta jajarannya sebagai salah satu aktor.

Akibat dari tindakan yang dilakukan oleh mantan pimpinan Polri tersebut telah melahirkan reaksi publik yang sangat beraneka ragam dan cukup mewarnai iklim diskursus diberbagai wadah termaksud media sosial. Sebagian besar responitas yang dicurahkan oleh masyarakat berbentuk luapan amarah dan pengecaman atas tindakan sang Jenderal (Listyo Sigit Prabowo) beserta mitra langit atau sang bintang terhadap Presiden Prabowo Subianto selaku kepada Negara.

Kejadian itu dinilai sebagai penghinaan terbesar terhadap seorang kepala negara & tindakan paling memalukan yang membawa nama institusi polri dalam beberapa dasawarsa ini. terlebih jika rangkaian skenario itu kerap dikaitkan dengan agenda politik tersembunyi dari presiden sebelumnya (Ir. Jokowi Dodo) atau sindikat solo sebagai upaya penaburan pengaruh & penguatan kekuasaan untuk kepentingan sibuah hati dalam menjemput momentum pilpres beberapa tahun yang akan datang.

Terlebih pertikaian kedua bela pihak antara Presiden Prabowo & Ir. Jokowi dodo juga dinilai telah dirasakan oleh publik beberapa waktu belakangan ini, mulai dari penolakan keras Listyo sigit selaku kapolri semasa jabatannya terhadap wacana kepolisian berada di bawah kementerian yang mendapat ultimatum menohok dari Mantan Panglima TNI Gatot Nirmantyo,
penangkapan perwira tinggi polri dalam pengelolaan MBG yang mendapat Respon singkat dengan Penangkapan Kejagung (Febri Adriansyah) oleh Kortas Tipikor Polri atas Dugaan Korupsi & TPPU, Wacana Pemakzulan Gibran Rakabuming selaku Wakil Presiden atas Kasus Ijazah dan puncak sebelum kejadian penyadapan ini ialah Retooling kabinet Pemerintahan Presiden Prabowo yang melibatkan orang-orang kepercayaan Jokowi.

Berdasarkan Konflik dingin yang terjadi antara Presiden Prabowo & Jokowi dodo serta tindakan Penyadapan Yang dilakukan Oleh Listyo Sigit Prabowo baru-baru ini. Tidak sedikit reaksi Publik telah menempatkan Jokowi & Listyo Sigit secara absolut sebagai pelaku tunggal atas polarisasi perebutan tahta & kendali kekuasaan yang dianggap sangat merugikan masyarakat, sebab kedudukan seorang kepala negara telah tercoreng luka. Sebagian besar Publik telah mendudukan Prabowo sebagai Korban sekaligus tumbal atas kezaliman yang dilakukan oleh Kelompok Solo. bahkan beberapa masyarakat secara tegas menyatakan bersedia tampil di garda terdepan untuk melindungi Prabowo atas konflik yang terjadi meskipun harus menghilangkan nyawa sekalipun, sebagaimana salah satu Pernyataan dari salah satu Warga Di kota Makassar melalui Media sosial.

Melalui tulisan ini, saya selaku salah satu warga negara yang berhasil hidup setelah melalui Rezim Jokowi yang melelahkan & masih bernafas sampai hari ini meskipun secara acak-acakan di tengah kepemimpinan Prabowo. Rasanya, sangat ganjil jika tidak turut meluapkan pandangan serta perasaan  saya dalam menyikapi polemik antara kedua bela pihak tersebut.

Pertama, mengenai Presiden Jokowi telah saya uraikan dalam tulisan saya yang lain berjudul “Mozaik Pemerintahan : Segudang Prestasi Jokowi!”.  Di dalam tulisan tersebut saya merampung secara garis umum sejumlah prestasi jokowi semasa menduduki bangku presiden yang membuat saya bersyukur hidup sampai hari ini setelah melalui masa yang kelam. Polemik RKHUP, Komersialisasi Virus (Covid-19), Kenaikan Harga BBM, Peristiwa Kanjuruhan, Mahkamah Keluarga, Dinasti Trias Politica, Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa di akhir periode, Teror Jampidsus atas Kasus 271 Triliun, Pembaharuan TAPERA dan klimaksnya ialah Karpet merah untuk sibuah hati agar lolos pada momentum Pemilu 2024 dengan Menelanjangi Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK Nomor 90 /PUU-XXI/2023 tentang batas usia minimal Calon Presiden & Wakil Presiden  serta Putusan Mahkamah Agung No.23 P/HUM/2024 Tentang batas calon usia calon kepala Daerah dalam peraturan KPU sebagai jalan alternatif anaknya.

Dari kejadian itulah saya beranggapan bahwa Jokowi adalah salah satu Presiden yang paling Antipati terhadap Moralitas Publik & Hanya memikirkan keuntungan bagi kelompoknya, ia rela mencorong marwah Negara yang berstatus sebagai Negara Hukum atas nama keuntungan, semua permainan dan rakayasa sosial yang dibuat bukan tidak disadari, tetapi membuat masyarakat mencapai titik pasrah dan tidak dapat melakukan apa-apa setelah ia diketahui kebal terhadap kritik dan abai oleh rasa malu. Hal yang lebih mengagetkan ialah saat Skema politiknya berjalan mulus, setelah menghancurkan sistem Hukum, ia kembali mendorong anaknya untuk terjun bebas sebagai Calon wakil Presiden setelah memberi jatah kue perpanjangan masa jabatan terhadap kepala desa.

Lalu Prabowo? Ia yang kerap berkata “Rakyat, Rakyat, Rakyat” memilih untuk maju dan menggandeng hasil perselingkuhan konstitusi dengan kekuasaan itu sebagai pasangannya dalam momentum Pilpres menjadi wakil presiden. Sebagai mantan Komandan Prajurit Khusus yang memiliki Analisis data serta kecapakan dalam strategi dan taktik apakah tidak mengetahui masalah yang dilahirkan oleh tubuh geng solo sebelumnya?

Apakah prabowo tidak punya pertimbangan terhadap konsekuensi yang akan diterima ke depan, termaksud dengan wacana penggulingan pemerintahannya, sedangkan analisis militier dan intelejen Conie Rahakundi Bakrie telah mengingatkan sedari awal bahwa bahwa Prabowo hanya akan menjabat selama 2-3 tahun lalu digantikan oleh Gibran selaku wakil Presiden.

Lalu dari kejadian Penyadapan
yang menimpanya baru-baru ini, Prabowo seakan ingin lupa dan abai terhadap sikap dan konsekuensi yang ia pilih sedari awal? Masih dapatkah kita menganggap Prabowo sebagai Korban dari Hiruk-pikuk huru hara ini? Atau ia juga sedari awal adalah aktor sebab melakukan pembiaran bahkan memiliki keterlibatan langsung melalui kerja sama
yang dibangun bersama sindikat solo untuk pemenangan pilpes yang lalu? Bukan kah ini sebagai karma untuk mereka berdua? Dan kenapa kita yang mesti kembali untuk merasa terluka bahkan harus menghilangkan nyawa.

Seketika saya teringat pada ungkapan Mochtar Lubis dalam karyanya “Harimau!Harimau” , bahwa orang yang membiarkan orang lain melakukan kejahatan dan dosa, sedang dia mampu menghalanginya, sama besarnya dengan orang yang melakukan dosa itu, apa lagi jika dia tahu, bahwa karena perbuatan dosa itu, dia sendiri mendapat keuntungan” . Sedangkan dalam muara permasalahan ini Prabowo bukan hanya tidak tahu bagaimana kejinya kelompok solo dalam memegang kekuasaan, bukan hanya hanya membiarkan masalah ini meski memiliki kemampuan, tetapi sedari awal ia telah terlibat dalam bentuk kerja sama untuk memenangkan anak dari geng solo itu sebagai wakil presidennya.

Kedua, bahwa jokowi bukan hantu untuk prabowo, bukan pula gambaran masa lalu yang kelam, jokowi adalah manifestasi nyata atas doa dan usaha prabowo yang ia amalkan dalam pemilihan presiden dua tahun lalu. Jadi tidak ada alasan untuk menempatkan jokowi sebagai pelaku tetapi juga mesti melibatkan prabowo itu sendiri sebagaimana pilihan yang itu tempuh sebelumnya. Terhadap simpatisan mereka berdua hati-hati ! Kalian masih punya anak & cucu yang akan tumbuh, jika nurani mengatakan mereka berdua salah jangan dipendam, jangan menghamba pada karakter yang selalu bisa berubah, berdirilah di garis yang benar, katakan benar jika memang ia benar dan katakan salah jika itu salah. Jangan melahirkan sikap paradoks yang baru, bermimpi untuk menduduki kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh semua orang tetapi masih terampil menyembunyikan kebenaran hanya karena seseorang.

Mengapa kita mesti merasa sedih untuk salah satu di antara mereka berdua? Di tengah tangan yang masih meraba pekerjaan, di tengah perut yang bersahabat dengan kelaparan, di tengah anak yang terus keracunan, di tengah koperasi yang sangat berjauhan, di tengah pajak yang terus berdatangan, di tengah suara dan tangis yang tidak terdengarkan, di tengah bencana yang tidak kunjung berkesudahan, apakah dengan berempati secara totalitas kepada salah satu dari mereka berdua bisa merubah keadaan kita semua? Sejauh mana mereka berdua telah merubah kehidupan kita semua sesuai dengan janji yang ia sematkan pada masa pencalonan. Kita semua mesti sadar dan melihat kenyataan, jangan jadikan mereka berdua sebagai candu meski ia adalah kepala atau mantan kepada negara sekalipun seperti ungkapan Roy Tjiong Dalam Karya Roem Topatimasang (Sekolah itu candu). “Bahwa candu memang punya dampak membius, membuat semua orang terlena dari kenyataan yang parah.”

Ketiga, bukan mengajak untuk menghilangkan empati belaka, tetapi turut merefleksikan kembali sejauh apa dan karena apa kita bersedih selama ini. Jika anda mengatakan sedih melihat salah satu dari dua tokoh yang bermasalah hari ini, baik Prabowo yang jadikan objek penyadapan maupun Jokowi yang perlahan dibuang oleh kabinet pemerintahan. sekiranya kita perlu membuka sudut pandang kesedihan yang lebih luas lagi. Di saat beberapa orang dipaksa bekerja untuk biaya sekolah yang kemahalan, di saat  beberapa orang bekerja keras untuk mencari makan, di saat beberapa orang membanting tulang untuk membangun rumah yang telah digusur oleh korporat, di saat beberapa orang bekerja keras untuk melihat anaknya  tetap hidup melawan biaya kesehatan, di saat orang tua merelakan anaknya yang mati karena keracunan. apakah kita juga bersedih seperti kesedihan yang diberikan untuk jokowi maupun Prabowo?

Dan jika sebagian besar mengatakan merasa bersedih atas ketimpangan sosial yang kita alami, lalu hal apa yang membuat kita sangat mudah melupakan semua kenyataan itu?  Hal apa yang membuat kita lebih memilih untuk mencanci, menghakimi bahkan sampai menghabisi satu sama lain sebagai korban untuk membela pelaku utama? Ingat akibat kerakusan terhadap kekuasaan mereka saling menjatuhkan satu sama lain dan jika ada yang dimenangkan, apakah itu dapat menjadi jaminan untuk setiap dari kita maupun lingkungan sekeliling menjadi lebih baik? Ingat bung, yang korban adalah kita semua bukan mereka, biar lah mereka bertarung untuk saling mengumbar kesalahan demi kekuasaan, karena dengan hal itu semakin membantu kita untuk melihat prilaku kekejaman dan kedzaliman mereka berdua antara Prabowo dan Jokowi terhadap kita semua. Kita hanya perlu untuk saling merangkul dan merapatkan barisan sampai keresahan dan kemuakan kita menjadi satu lalu bergerak secara bersama tanpa ada warna dari mereka berdua. Dan jika kesadaran itu belum juga muncul secara internal jemputlah melalui ruang pembelajaran dan solidaritas sebagaimana wejangan pramoedya untuk kita semua dalam Tetralogi Burunya Berjudul Jejak Langkah “ Didiklah Masyarakat dengan Organisasi dan Didiklah Penguasa dengan Perlawanan” . Terakhir, ingat kita semua adalah korban! dan mereka berdualah adalah pelakunya !

Exit mobile version