×
Banner Iklan

Civitas Akademika UNM, Taruna Ikrar Kupas Neuroscience Leadership: Sains Otak untuk Membangun Pemimpin Masa Depan Indonesia

7 Maret 2026 21:20 WIB
Editor : Salman Alfarisi
Civitas Akademika UNM, Taruna Ikrar Kupas Neuroscience Leadership: Sains Otak untuk Membangun Pemimpin Masa Depan Indonesia i

MAKASSAR – CELOTEH.ONLINE – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., berbagi gagasan tentang kepemimpinan masa depan berbasis ilmu saraf atau neuroscience leadership dalam forum dialog pendidikan bertajuk Ngobrol Pendidikan Ramadan bersama civitas akademika Universitas Negeri Makassar (UNM).

Diskusi tersebut mengangkat tema “Puasa Ramadan dalam Perspektif Neuroscience Leadership.”

Kegiatan ini diselenggarakan di Rumah Jabatan Rektor UNM pada Sabtu, 6 Maret 2026, dalam suasana hangat dan penuh refleksi intelektual Ramadan.

Forum tersebut dihadiri seluruh wakil rektor UNM, para dekan, guru besar, dosen, mahasiswa, serta civitas akademika lainnya, sehingga menjadikannya sebagai ruang dialog akademik yang mempertemukan pemikiran ilmiah dengan nilai spiritual Ramadan.

Dalam pemaparannya, Taruna Ikrar menjelaskan bahwa perkembangan ilmu saraf modern memberikan pemahaman baru tentang bagaimana puasa tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki dampak positif terhadap kesehatan otak, pengendalian emosi, serta peningkatan kemampuan pengambilan keputusan.

“Puasa Ramadan melatih self-control, meningkatkan fokus, serta membantu otak mengelola emosi dan stres dengan lebih baik. Dari perspektif neuroscience, ini adalah proses pembentukan kepemimpinan yang kuat karena pemimpin sejati lahir dari kemampuan mengendalikan diri dan memahami orang lain,” ujar Taruna Ikrar

di hadapan civitas akademika UNM.
Menurutnya, hakikat bulan Ramadan adalah momentum pembentukan karakter kepemimpinan yang matang secara intelektual, emosional, dan spiritual.

“Kepemimpinan masa depan bukan hanya tentang kecerdasan rasional, tetapi juga tentang memahami bagaimana otak bekerja bagaimana emosi, motivasi, dan empati dapat diarahkan untuk menciptakan keputusan yang efektif dan manusiawi,” kata Taruna Ikrar.

Sebagai pakar neurosains dan Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar juga menjelaskan secara ilmiah mengenai kompleksitas otak manusia. Ia menyebutkan bahwa otak manusia terdiri dari lebih dari 100 miliar sel saraf (neuron) yang berperan dalam seluruh proses berpikir, emosi, dan pengambilan keputusan.

Menurutnya, setiap neuron memiliki sekitar 10.000 koneksi sinaptik dengan neuron lainnya.

Dengan jumlah tersebut, total koneksi saraf di dalam otak manusia dapat mencapai ratusan hingga ribuan triliun jaringan koneksi, menjadikannya sistem pemrosesan informasi paling kompleks di alam semesta.

“Jika dianalogikan secara sederhana, satu neuron saja lebih hebat dari satu mesin komputer pintar. Artinya, otak manusia dapat disamakan dengan sekitar 100 miliar komputer super cerdas yang bekerja secara simultan,” jelas Taruna Ikrar.

Ia menambahkan bahwa jaringan saraf tersebut berperan penting dalam proses pengambilan keputusan, termasuk dalam situasi krisis kesehatan seperti pandemi.

“Otak memiliki jaringan saraf yang sangat kompleks dalam pengambilan keputusan, tak terkecuali keputusan terkait pandemi. Karena itu kepemimpinan sangat penting untuk meningkatkan optimisme masyarakat serta mendorong lahirnya inovasi seperti vaksin dan obat-obatan baru sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang mandiri di bidang kesehatan,” ujarnya.

Taruna Ikrar juga menekankan pentingnya semangat persatuan dalam menghadapi tantangan global.

“Pentingnya peran leadership untuk meningkatkan optimisme masyarakat, menemukan vaksin dan obat-obat baru sehingga Indonesia menjadi mandiri. Mari bersatu padu, dan itu membutuhkan leadership,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa neuroleadership berperan penting dalam membangun karakter pemimpin yang adaptif, bijak, dan berbasis empati ilmiah.

Ilmu neuroscience, lanjutnya, kini telah berkembang menjadi fondasi dalam berbagai bidang, mulai dari pengambilan kebijakan publik, pengembangan sumber daya manusia, hingga inovasi kebijakan kesehatan yang berdampak luas.

Taruna Ikrar sendiri dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang memegang paten metode pemetaan otak manusia sejak tahun 2009, yang menjadi bagian dari kontribusinya dalam pengembangan ilmu saraf modern.

Dalam menghadapi revolusi digital, Taruna juga menyoroti pentingnya sinergi antara neurosains dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang melahirkan konsep Neuro-AI.

Kolaborasi ini, menurutnya, membuka peluang besar dalam pengembangan terapi neurologis, prediksi efektivitas obat, hingga personalisasi pengobatan yang lebih presisi.

“Ketika AI dipandu oleh pemahaman otak manusia, kita tidak hanya menciptakan mesin pintar, tetapi juga membangun peradaban yang lebih berempati dan beradab,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Rektor Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., menyampaikan apresiasi tinggi kepada Taruna Ikrar atas kesediaannya berbagi gagasan ilmiah yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai spiritual Ramadan.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Prof. Taruna Ikrar yang telah memberikan perspektif ilmiah yang sangat inspiratif. Mengaitkan puasa Ramadan dengan ilmu neuroscience membuka ruang pemikiran baru bagi civitas akademika UNM dalam memahami kepemimpinan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual,” ujar Prof. Farida Patittingi.

Ia berharap dialog seperti ini dapat terus dilakukan untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya gagasan besar yang bermanfaat bagi bangsa.

Sebagai Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar juga menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya saat ini tengah melakukan transformasi menuju smart regulation, yakni sistem regulasi yang adaptif, transparan, dan berstandar internasional.

Transformasi tersebut semakin diperkuat dengan capaian BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA), yang menandakan pengakuan dunia terhadap kualitas sistem regulasi obat dan makanan Indonesia.

Diskusi yang berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa tersebut berjalan dinamis dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa dan dosen mengenai kepemimpinan, inovasi, serta kontribusi ilmu pengetahuan bagi pembangunan bangsa.

Forum Ngobrol Pendidikan Ramadan ini diharapkan menjadi ruang inspirasi bagi civitas akademika UNM untuk terus mengembangkan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan, nilai spiritual, dan kemanusiaan, sekaligus menyiapkan generasi pemimpin masa depan menuju Indonesia Emas 2045. (*)

Tags:

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Terkait

Rekomendasi Lain

Infografik

Infografik 1
Infografik 2

Baca Juga