Debat pertama calon bupati Wajo yang berlangsung di Sallo Mall Sengkang pada 3 November 2024 menampilkan persaingan sengit antara pasangan calon bupati. Pasangan nomor urut 1, Andi Rosman dan dr. Baso Rahmanuddin, dengan tagline “AR-Rahman,” hadir sebagai penantang yang membawa visi misi “Wajo Maradeka.” Mereka menawarkan harapan baru dengan fokus pada pembaruan dan inovasi dalam pemerintahan.

Di sisi lain, pasangan nomor urut 2, Amran Mahmud dan Amran SE, yang merupakan calon petahana (incumbent), mengusung tagline “Pammase berlanjut.” Mereka mengedepankan visi misi keberlanjutan, dengan tujuan melanjutkan program-program yang telah berjalan di masa pemerintahannya.
Debat pertama calon bupati dan wakil bupati Wajo yang dilaksanakan oleh KPU Wajo berjalan selama hampir tiga jam dengan enam sesi, berlangsung lancar dan damai. Meski begitu, setelah acara berakhir, topik perbincangan di warung kopi dan media sosial masih menyoroti hasil debat tersebut. Terdapat perbedaan pandangan di antara para pendukung masing-masing calon, yang saling menguatkan dan membela bahkan saling menghujat. Terutama beredar video pendek pasangan nomor urut 1 yang salah menyebutkan tempat, menyebabkan perdebatan yang panjang di antara pendukung.

Menurut salah satu tokoh penggiat media sosial, budaya, dan politik, Andi Pajung Pero, dalam tulisannya menanggapi serangan media sosial yang mengarah kepada pasangan nomor urut 1, AR-Rahman, beliau mengatakan:
“Mengamati terkait debat calon Bupati Wajo kemarin, situasi AR-Rahman yang sering salah sebut dan tampak seperti sedang menahan emosi saat debat bisa dijelaskan dengan beberapa poin:
- AR-Rahman mungkin berusaha menjaga suasana debat tetap konstruktif. Dengan tidak ingin mempermalukan lawan, ia menunjukkan empati dan sikap profesional dalam berargumentasi.
- Ia tetap fokus pada isu penting dan tidak menyampaikan pertanyaan tentang realisasi program Pammase. Hal ini menunjukkan bahwa ia lebih memfokuskan diri pada substansi perdebatan dan penyampaian visi misinya daripada pada serangan pribadi. Ini bisa menjadi strategi untuk menjaga agar debat tetap relevan dan berbobot.
- Dalam debat sering kali memicu emosi, terutama ketika membahas isu-isu sensitif, apalagi jika lawan debat adalah tipe orang yang terlalu banyak berteori meski nyatanya kosong. AR-Rahman mungkin merasakan tekanan yang sama namun ia berusaha untuk tetap tenang, meskipun ia ingin mengekspresikan pendapatnya secara tegas namun di sisi lain ia masih berusaha santun, tidak menyinggung lawan debat dan mempertahankan filosofi 3 S.
- Caranya menahan emosi hingga beberapa kali salah dalam penyebutan juga bisa jadi bagian dari strategi untuk menunjukkan bahwa ia mampu mengendalikan situasi, meskipun ada ketegangan. Ini dapat memberikan kesan bahwa ia adalah orang yang mampu menahan meredam emosi tanpa harus menyinggung apalagi hingga harus mempermalukan lawan debatnya.

Sehingga saya berkesimpulan, apa yang dipelintir oleh sebagian orang sepertinya sedikit keliru malah sebenarnya bisa menjadi sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan oleh AR-Rahman bisa dilihat sebagai upaya untuk menjaga integritas debat dan menghormati lawan, meskipun situasi mungkin menguji ketahanan dan emosinya. Inilah yang dikandung dan makna dari pesan orang tua dulu dimana salah satu ciri pemimpin adalah Mappasanrei Ri Dewatae, TeNapalaloiwi Ampe Senratana, temmapaliwengngi toi Ada-Ada.” (Celoteh-red)