Road Map Kohati sebagai Badan Khusus Perempuan untuk HMI dan Indonesia
Oleh: Dwi Puspita Ananda
CELOTEH.ONLINE – Menurut saya, keberadaan Korps HMI-Wati (Kohati) bukan sekadar pelengkap dalam struktur Himpunan Mahasiswa Islam, melainkan elemen strategis dalam membangun kualitas kader perempuan yang berdaya saing dan berkesadaran sosial tinggi. Oleh karena itu, penyusunan road map Kohati menjadi kebutuhan mendesak agar arah gerakan perempuan HMI lebih terstruktur, sistematis, dan relevan dengan tantangan zaman.
Menurut saya, road map Kohati harus dimulai dari penegasan identitas dan peran Kohati itu sendiri. Kohati tidak hanya berfungsi sebagai ruang berhimpun bagi kader perempuan, tetapi juga sebagai wadah pembentukan kepemimpinan perempuan yang progresif. Dalam konteks ini, Kohati harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya aktif di internal organisasi, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Lebih lanjut, menurut saya, road map Kohati perlu memuat penguatan kapasitas kader perempuan dalam berbagai aspek, baik intelektual, emosional, maupun sosial. Hal ini penting agar kader Kohati tidak hanya memiliki sensitivitas terhadap isu perempuan, tetapi juga memiliki kemampuan analisis yang tajam dan keterampilan kepemimpinan yang mumpuni. Tanpa hal tersebut, menurut saya, Kohati akan sulit memainkan peran strategisnya di tingkat lokal maupun nasional.
Namun demikian, menurut saya, tantangan terbesar Kohati saat ini adalah belum adanya arah gerakan yang terintegrasi antara tingkat komisariat, cabang, hingga pusat. Program-program yang dijalankan sering kali bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, menurut saya, road map Kohati harus mampu menjadi panduan bersama yang menghubungkan seluruh jenjang organisasi dalam satu visi gerakan perempuan yang jelas.
Menurut saya, road map tersebut juga harus responsif terhadap isu-isu kontemporer perempuan di Indonesia, seperti kesetaraan gender, kekerasan terhadap perempuan, akses pendidikan, dan partisipasi politik. Kohati harus mampu mengambil posisi sebagai agen perubahan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam merespons berbagai persoalan tersebut. Dengan demikian, Kohati dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional.
Di sisi lain, menurut saya, penting bagi Kohati untuk membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, baik organisasi perempuan lainnya, lembaga pemerintah, maupun masyarakat sipil. Kolaborasi ini akan memperluas ruang gerak Kohati sekaligus memperkuat pengaruhnya dalam memperjuangkan isu-isu perempuan. Menurut saya, Tanpa sinergi yang kuat gerakan Kohati akan cenderung berjalan sendiri dan kurang berdampak luas.
Menurut saya, road map Kohati juga harus menekankan pentingnya kaderisasi yang berperspektif gender. Artinya, proses pembinaan kader perempuan tidak hanya berfokus pada aspek organisatoris, tetapi juga pada kesadaran kritis terhadap posisi dan peran perempuan dalam masyarakat. Dengan demikian, menurut saya, Kohati dapat melahirkan kader perempuan yang tidak hanya tangguh, tetapi juga memiliki visi perubahan yang jelas.
Lebih jauh, menurut saya, keberhasilan road map Kohati akan sangat menentukan kontribusi perempuan HMI terhadap masa depan Indonesia. Perempuan memiliki peran strategis dalam berbagai sektor, dan Kohati memiliki potensi besar untuk mencetak pemimpin-pemimpin perempuan yang berintegritas dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, menurut saya, penguatan Kohati bukan hanya kepentingan organisasi, tetapi juga kepentingan bangsa.
Pada akhirnya, menurut saya, road map Kohati adalah peta jalan menuju transformasi gerakan perempuan HMI yang lebih terarah dan berdampak. Tanpa arah yang jelas, potensi besar yang dimiliki Kohati akan sulit berkembang secara optimal. Oleh karena itu, menurut saya, penyusunan dan implementasi road map Kohati bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi masa depan perempuan HMI dan Indonesia.

















Komentar